Dalam praktik bisnis, banyak pemilik usaha merasa “ramai penjualan” tetapi tetap kesulitan menghasilkan laba. Salah satu penyebab utamanya adalah tidak memahami Break Even Point (BEP) secara benar. Tanpa mengetahui BEP, keputusan harga, target penjualan, hingga ekspansi usaha sering kali hanya berdasarkan intuisi, bukan data.
Artikel ini akan membahas cara menghitung BEP (Break Even Point) secara sistematis, mudah dipahami, dan relevan untuk pengambilan keputusan bisnis modern—termasuk bagaimana konsep BEP ini diterapkan dalam sistem seperti SAP Business One.
Apa Itu BEP (Break Even Point)?
Break Even Point (BEP) adalah titik di mana total pendapatan sama dengan total biaya, sehingga bisnis tidak untung dan tidak rugi. Pada titik ini, seluruh biaya tetap dan biaya variabel sudah tertutup oleh penjualan.
Dengan kata lain, BEP menjawab pertanyaan fundamental dalam bisnis:
“Berapa minimum penjualan yang harus saya capai agar usaha tidak merugi?”
Kesalahan umum yang sering terjadi adalah menganggap BEP sebagai target keuntungan. Padahal, BEP hanyalah batas aman sebelum bisnis mulai menghasilkan laba bersih.
Baca juga
Perbedaan Biaya Tetap dan Biaya Variabel dalam Akuntansi Bisnis
Mengapa BEP Penting untuk Pengambilan Keputusan Bisnis?
Memahami BEP bukan sekadar soal rumus, tetapi soal kontrol dan arah bisnis. Analisis BEP yang baik membantu pemilik usaha:
- Menentukan target penjualan minimum yang realistis
- Mengevaluasi apakah harga jual sudah layak
- Menilai dampak kenaikan biaya produksi atau operasional
- Menghindari ekspansi yang terlihat menjanjikan tetapi sebenarnya berisiko
Tanpa BEP, bisnis ibarat berjalan tanpa speedometer. Anda mungkin bergerak cepat, tetapi tidak tahu apakah arah dan kecepatannya aman.
Baca juga:
Cara Menentukan Harga Jual Produk yang Menguntungkan
Komponen Dasar dalam Menghitung BEP
Sebelum masuk ke rumus, penting memahami dua komponen utama BEP: biaya tetap dan biaya variabel.
Biaya Tetap (Fixed Cost)
Biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah meskipun volume produksi atau penjualan berubah.
Contoh biaya tetap:
- Gaji karyawan tetap
- Sewa kantor atau gudang
- Penyusutan mesin dan aset
- Biaya lisensi software atau ERP
Biaya ini tetap harus dibayar, meskipun penjualan sedang turun.
Biaya Variabel (Variable Cost)
Biaya variabel berubah seiring jumlah unit yang diproduksi atau dijual.
Contoh biaya variabel:
- Bahan baku
- Ongkos produksi per unit
- Komisi penjualan
- Biaya pengemasan
Memisahkan biaya tetap dan variabel secara akurat adalah kunci utama menghitung BEP dengan benar.
Baca juga:
Contoh Biaya Tetap dan Biaya Variabel dalam Bisnis
Rumus BEP dan Cara Menghitungnya
Rumus BEP dalam Unit
Rumus paling umum untuk menghitung BEP dalam jumlah unit adalah:
BEP (Unit) = Biaya Tetap / (Harga Jual per Unit – Biaya Variabel per Unit)
Selisih antara harga jual dan biaya variabel per unit disebut margin kontribusi.
Rumus BEP dalam Rupiah
Jika ingin mengetahui BEP dalam nilai penjualan (rupiah):
BEP (Rp) = Biaya Tetap / Margin Kontribusi (%)
Rumus ini sangat berguna untuk manajemen yang lebih fokus pada target omzet dibanding jumlah unit.
Contoh Perhitungan BEP Sederhana
Misalkan sebuah usaha memiliki data berikut:
- Biaya tetap per bulan: Rp50.000.000
- Harga jual produk per unit: Rp100.000
- Biaya variabel per unit: Rp60.000
Langkah 1: Hitung Margin Kontribusi
Rp100.000 – Rp60.000 = Rp40.000 per unit
Langkah 2: Hitung BEP dalam Unit
Rp50.000.000 / Rp40.000 = 1.250 unit
Artinya, usaha tersebut harus menjual minimal 1.250 unit per bulan agar tidak rugi.
Interpretasi Bisnis
Jika kapasitas penjualan realistis hanya 900–1.000 unit per bulan, maka:
- Harga jual perlu dievaluasi, atau
- Struktur biaya harus ditekan
Di sinilah BEP menjadi alat pengambilan keputusan, bukan sekadar angka.
Baca juga:
Contoh Analisis Profit dan Rugi Usaha Kecil
Kesalahan Umum dalam Menghitung BEP
Banyak analisis BEP menjadi tidak akurat karena kesalahan berikut:
- Semua biaya dianggap variabel
- Biaya tidak diperbarui saat kondisi berubah
- BEP disamakan dengan target laba
- Tidak memisahkan BEP per produk
- Mengabaikan perubahan harga bahan baku
Kesalahan ini sering membuat bisnis terlihat “aman”, padahal sebenarnya berada di zona risiko.
Baca juga:
Kesalahan Fatal dalam Analisis Keuangan Usaha
Cara Menggunakan BEP untuk Strategi Bisnis
BEP bukan hanya alat akuntansi, tetapi alat strategis. Beberapa penerapannya:
- Menentukan minimum sales target tim penjualan
- Simulasi dampak diskon atau promo
- Evaluasi kelayakan produk baru
- Analisis risiko saat ekspansi atau penambahan aset
Dengan BEP, setiap keputusan memiliki dasar angka yang jelas, bukan asumsi.
Baca juga:
Manajemen Biaya dan Profitabilitas di SAP Business One
Menghitung dan Memonitor BEP Menggunakan SAP Business One
Dalam praktik modern, menghitung BEP manual dengan Excel sering kali tidak cukup. Data biaya dan penjualan terus berubah.
Dengan SAP Business One, perusahaan dapat:
- Mengelompokkan biaya tetap dan variabel melalui cost center
- Melihat margin kontribusi per produk secara real-time
- Menganalisis laporan Profit & Loss dan Inventory Valuation
- Mengambil keputusan berbasis data aktual, bukan estimasi
Pendekatan ini membuat BEP tidak lagi statis, tetapi dinamis mengikuti kondisi bisnis.
Baca juga:
SAP Business One untuk Manajemen Keuangan dan Cost Control
Penutup
Memahami cara menghitung BEP (Break Even Point) adalah fondasi penting untuk bisnis yang sehat dan berkelanjutan. BEP membantu pemilik usaha berpindah dari sekadar “jualan ramai” menjadi bisnis yang benar-benar menguntungkan.
Jika BEP dikombinasikan dengan sistem manajemen keuangan yang terintegrasi seperti SAP Business One, maka keputusan bisnis akan jauh lebih akurat, terukur, dan aman dalam jangka panjang.
FAQs
Jika penjualan melebihi BEP, perusahaan akan mulai mencatat keuntungan bersih.
Jika BEP sulit dicapai, pertimbangkan untuk meninjau kembali strategi harga atau mencari cara untuk mengurangi biaya.
Tidak, BEP adalah titik di mana pendapatan sama dengan biaya, sementara laba bersih adalah pendapatan dikurangi semua biaya.
Ya, BEP dapat berubah tergantung pada perubahan biaya atau harga jual.
Ya, BEP penting untuk bisnis kecil karena membantu dalam mengambil keputusan finansial yang lebih baik.

